• 0853-2059-5056
  • office@assyifapeduli.org
  • Subang, Jawa Barat, Indonesia
Edukasi ZIS
Strategi Canvassing Fundraiser: Cara Menawarkan Program Kebaikan Tanpa Membuat Calon Donatur Merasa Terganggu

Strategi Canvassing Fundraiser: Cara Menawarkan Program Kebaikan Tanpa Membuat Calon Donatur Merasa Terganggu

Penulis: Galih_Asahi | Editor: Firdhafeb

Menjadi fundraiser atau amil bukan sekadar tentang mencari donatur. Di balik aktivitas canvassing, ada tugas yang jauh lebih penting: menyampaikan pesan kebaikan kepada orang yang tepat, dengan cara yang tepat, dan pada waktu yang tepat.

Namun, prosesnya tidak selalu berjalan mulus. Seperti kisah salah satu relawan LAZ Assyifa Peduli berikut ini:

“Kamu hubungi saya itu kalo ada yang mau pesan barang, bukan urusan kayak gini…”

Klik.

Telepon ditutup tanpa salam.

Jleb. Rasanya seperti makan sambal level seratus—pedasnya sampai ke hati. Hehe.

Pengalaman seperti ini mungkin pernah dirasakan oleh fundraiser ketika melakukan canvassing. Sudah merasa menghubungi orang yang tepat, punya kemampuan finansial, bahkan memiliki posisi strategis di sebuah perusahaan. Namun, respons yang diterima justru di luar dugaan.

Lalu, apa yang salah?

Apakah cara komunikasi kita? Apakah program yang ditawarkan kurang menarik? Atau justru target yang kita hubungi belum tepat?

Dari sinilah seorang amil perlu belajar. Penolakan dalam canvassing bukan selalu tanda bahwa program kita buruk. Bisa jadi, cara menyampaikan pesan yang perlu dievaluasi.

Berikut beberapa strategi canvassing fundraiser yang dapat menjadi bekal bagi para amil dan fundraiser agar komunikasi dengan calon donatur lebih efektif.

1. Pahami Program Sebelum Menawarkannya

Kesalahan yang sering terjadi dalam canvassing adalah menawarkan program sebelum benar-benar memahami program tersebut. Fundraiser perlu mengetahui dengan jelas: apa nama programnya, siapa penerima manfaatnya, apa masalah yang ingin diselesaikan, bagaimana mekanisme programnya, siapa target yang tepat, serta apa dampak yang akan dihasilkan.

Misalnya, ada program sedekah melalui minyak jelantah. Jangan hanya menyampaikan bahwa program tersebut mengajak masyarakat mengumpulkan minyak jelantah. Pahami cerita besarnya: limbah rumah tangga dikumpulkan, memiliki nilai ekonomi, kemudian hasilnya dapat dikonversikan menjadi dukungan untuk program sosial.

Inilah pentingnya product knowledge bagi fundraiser. Semakin kita memahami program, semakin mudah pula menjelaskannya dengan bahasa yang sederhana dan meyakinkan.

Dalam dunia filantropi Islam, amil bukan sekadar menawarkan sebuah program. Kita sedang menyampaikan peluang kebaikan melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

Seperti pesan yang pernah disampaikan oleh Bunda Ima R. Efendy dari LAZ Ummul Quro, kehadiran seorang fundraiser adalah untuk membantu membuka mindset sosial masyarakat, sehingga seseorang yang sebelumnya hanya menerima manfaat dapat tumbuh menjadi pribadi yang memberi manfaat.

Karena itu, sebelum melakukan canvassing, tanyakan kepada diri sendiri: pesan kebaikan apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan?

2. Tentukan Target Canvassing dengan Tepat

Tidak semua program cocok ditawarkan kepada semua orang. Memahami target penerima pesan menjadi bagian penting dalam strategi canvassing fundraiser. Program pendidikan, misalnya, akan lebih relevan ketika ditawarkan kepada pihak sekolah, kepala sekolah, guru, orang tua, alumni, atau komunitas yang memiliki perhatian terhadap pendidikan.

Begitu pula dengan program pemberdayaan UMKM, kesehatan, lingkungan, kebencanaan, maupun program pengentasan kemiskinan. Masing-masing memiliki karakteristik calon mitra dan calon donatur yang berbeda.

Target yang tepat membuat komunikasi menjadi lebih relevan. Kita tidak sekadar bertanya, “Mau ikut program kami?” tetapi dapat menjelaskan, “Program ini memiliki manfaat yang dekat dengan kebutuhan dan kepedulian Bapak/Ibu.”

3. Pilih Waktu yang Tepat untuk Menghubungi Calon Donatur

Pesan yang baik dapat kehilangan kesempatan ketika disampaikan pada waktu yang tidak tepat. Karena itu, biasakan meminta izin sebelum menelepon, terutama jika calon donatur atau mitra belum memiliki kedekatan komunikasi dengan kita. Misalnya:

“Teh, izin boleh saya telepon? Ada yang ingin saya sharingkan tentang program kebaikan.”

Calon mitra mungkin akan menjawab, “Boleh, nanti setelah jam satu ya, saat jam istirahat.”

Ketika sudah mendapatkan waktu, tepati janji tersebut. Hal sederhana seperti ini menunjukkan bahwa fundraiser menghargai waktu calon donatur.

Dalam membangun relasi, pertemuan pertama bukan sekadar kesempatan untuk menyampaikan program. Pertemuan pertama adalah awal dari sebuah hubungan. Bisa menjadi awal dari kerja sama yang panjang, atau menjadi pelajaran berharga untuk memperbaiki cara kita berkomunikasi.

4. Sampaikan Program dengan Bahasa yang Mudah Dipahami

Fundraiser yang menguasai program biasanya akan lebih percaya diri ketika menjelaskan. Namun, penguasaan materi saja belum cukup. Kita juga perlu menyesuaikan bahasa dengan siapa yang sedang diajak berbicara.

Ketika berbicara dengan kepala sekolah atau pimpinan lembaga, gunakan komunikasi yang formal dan berbasis data. Ketika berbicara dengan siswa, gunakan bahasa yang lebih sederhana dan dekat dengan keseharian mereka.

Prinsipnya sederhana: jangan membuat calon donatur bekerja keras untuk memahami kebaikan yang kita tawarkan.

Siapkan pula materi pendukung seperti proposal, company profile, infografis, video, laporan program, atau tautan landing page. Materi tersebut dapat membantu calon mitra memahami program sekaligus meningkatkan kepercayaan.

5. Jangan Lupa “Mengikat” Hasil Canvassing

Program sudah bagus. Target sudah tepat. Waktu komunikasi sudah dipilih. Penjelasan pun sudah disampaikan dengan baik. Lalu apa berikutnya?

Jangan berhenti pada kalimat, “Nanti saya kabari lagi.”

Dalam fundraising, setiap ikhtiar perlu memiliki tindak lanjut yang jelas. Inilah yang bisa disebut sebagai follow up atau closing dalam canvassing.

Bentuknya bisa sederhana: membuat jadwal pertemuan berikutnya, meminta waktu untuk presentasi, mengirim proposal, mengajak berdiskusi dengan pengambil keputusan, atau menyusun nota kesepahaman apabila sudah masuk tahap kerja sama.

Ikhtiar dan tawakal perlu berjalan bersama. Kita berusaha sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Jangan biarkan peluang kebaikan menguap hanya karena tidak ada tindak lanjut.

6. Terima Setiap Hasil sebagai Bagian dari Proses Fundraising

Tidak semua canvassing akan berakhir dengan donasi atau kerja sama. Ada yang langsung menyepakati kerja sama program secara berkelanjutan. Ada yang baru sebatas mendapatkan edukasi tentang program. Ada pula yang hanya memberikan kontak untuk komunikasi berikutnya. Semuanya tetap merupakan hasil.

Seorang fundraiser perlu belajar menghargai setiap proses. Sebab, fundraising bukan hanya tentang angka donasi yang terkumpul, tetapi juga tentang seberapa luas pesan kebaikan tersampaikan.

Mungkin hari ini seseorang belum berdonasi. Namun, edukasi yang kita sampaikan bisa saja menumbuhkan kesadaran yang baru terasa manfaatnya beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian.

Baca Juga: Menjadi Penghafal Qur’an, Menjadi Bagian dari Kebaikan yang Terus Mengalir

Fundraiser Bukan Sekadar Canvasser, tetapi Penyampai Kebaikan

Pada akhirnya, menjadi amil dan fundraiser membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menjual program. Kita membutuhkan kemampuan membangun hubungan, memahami kebutuhan, mendengarkan, berkomunikasi, melakukan tindak lanjut, dan menerima hasil dengan lapang.

Seperti pesan yang pernah disampaikan H. Kamsi, Direktur LAZ Assyifa Peduli, bahwa seseorang yang datang ke dunia fundraising tentu memiliki tujuan dan kebutuhan masing-masing. Namun, di atas semua itu, niat perlu terus diluruskan.

Jadikan aktivitas canvassing sebagai jalan untuk menyampaikan kebaikan, membuka kesadaran sosial, dan mempertemukan orang-orang baik dengan peluang untuk memberi manfaat.

Jadi, jika suatu hari telepon kita ditutup calon donatur, jangan buru-buru ciut mental.

Evaluasi. Belajar. Perbaiki cara komunikasi. Lalu bergerak lagi.

Siapa tahu, “pedasnya” penolakan hari ini justru menjadi bahan untuk membuat “rujak” pengalaman yang lebih segar dan matang di kemudian hari.

Karena fundraiser yang hebat bukanlah mereka yang tidak pernah ditolak, melainkan mereka yang mampu mengubah setiap penolakan menjadi pelajaran untuk menyampaikan kebaikan dengan lebih baik.

Sahabat, tertarik menjadi fundraiser LAZ Assyifa Peduli?

Kini Sahabat dapat dengan mudah menjadi bagian dari penyampai kebaikan dari program-program kami. Dengan memilih program yang sesuai dan daftarkan data diri untuk menjadi fundraiser, Sahabat akan bisa langsung mendapat referral link untuk disebarluaskan.

Mari jadi jembatan kebaikan yang meluas dengan bergabung menjadi fundraiser LAZ Assyifa Peduli. [Klik di sini sekarang]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × four =