
Menjadi Penghafal Qur’an, Menjadi Bagian dari Kebaikan yang Terus Mengalir
Menjadi penghafal Qur’an bukan hanya tentang mampu mengingat 30 juz Al-Qur’an. Di balik setiap ayat yang dihafalkan, ada perjuangan untuk menjaga kalamullah, mengamalkannya, dan kelak mengajarkannya kepada orang lain.
Karena itu, perjalanan seorang penghafal Qur’an sejatinya tidak berhenti ketika hafalannya selesai. Justru dari sana, terbuka peluang untuk menghadirkan lebih banyak kebaikan.
Satu penghafal Qur’an dapat menjadi guru. Satu guru dapat mengajarkan Al-Qur’an kepada puluhan anak. Dan dari anak-anak itu, lahir generasi yang kembali mengenal, membaca, menghafal, dan mencintai Al-Qur’an.
Inilah mengapa mendukung lahirnya penghafal Qur’an berarti ikut mengambil bagian dalam kebaikan yang manfaatnya dapat terus meluas.
Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an
Rasulullah ﷺ memberikan kedudukan yang begitu mulia bagi orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. Dalam Shahih Bukhari no. 5027, dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Hadits ini menunjukkan betapa mulianya aktivitas belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Seorang penghafal Qur’an yang terus belajar, menjaga hafalan, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Qur’an memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari kebaikan tersebut.
Bukan hanya mendapatkan manfaat untuk dirinya sendiri, tetapi juga membuka jalan agar orang lain dapat merasakan manfaat dari Al-Qur’an. Al-Qur’an yang dibaca, menjadi cahaya yang terus menyebar.
Al-Qur’an memiliki kedudukan yang luar biasa bagi seorang Muslim. Rasulullah ﷺ juga mengabarkan keutamaan orang yang membaca Al-Qur’an. Dalam Shahih Muslim no. 804a, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.”
Hadits ini menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur’an dan besarnya kedudukan Al-Qur’an bagi orang yang senantiasa membacanya. Maka, ketika seorang santri berjuang menghafalkan Al-Qur’an, sesungguhnya ia sedang menempuh perjalanan yang sangat mulia. Ia mengulang ayat yang sama berkali-kali. Menjaga hafalan setiap hari. Belajar memperbaiki bacaan. Bangun untuk mengulang hafalan ketika sebagian orang masih terlelap. Semua itu membutuhkan kesungguhan dan istiqamah.
Menjadi Penghafal Qur’an Bukan Akhir, tetapi Awal dari Kebaikan
Bayangkan seorang santri yang hari ini sedang duduk di hadapan mushaf. Ia mungkin belum dikenal banyak orang. Belum memiliki banyak pengikut. Belum menjadi guru. Namun, di dalam dirinya sedang tumbuh sesuatu yang sangat berharga: hafalan Al-Qur’an.
Beberapa tahun kemudian, mungkin ia akan berdiri di depan kelas mengajarkan huruf hijaiyah kepada anak-anak.
Mungkin ia akan membimbing seseorang yang sebelumnya belum lancar membaca Al-Qur’an. Mungkin ia akan menjadi guru di pesantren. Mungkin ia akan mendirikan rumah tahfiz atau mungkin ia akan menjadi orang tua yang mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada anak-anaknya.
Kita tidak pernah tahu sejauh mana Allah akan membawa manfaat dari seorang penghafal Qur’an. Karena itu, melahirkan penghafal Qur’an berarti menanam kebaikan yang manfaatnya berpotensi tumbuh jauh melampaui satu generasi.
Kebaikan itu bisa berjalan seperti sebuah mata rantai. Seorang santri dibantu untuk belajar dan menghafalkan Al-Qur’an. Kemudian ia tumbuh menjadi penghafal Qur’an. Ia belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Orang-orang yang belajar kepadanya menjadi mampu membaca Al-Qur’an. Sebagian dari mereka kemudian mengajarkannya kembali kepada keluarga dan lingkungan. Begitu seterusnya.
Satu kebaikan melahirkan kebaikan lainnya. Itulah mengapa mendukung pendidikan seorang penghafal Qur’an bukan hanya tentang membantu kebutuhan seorang santri. Ada harapan besar agar ilmu dan hafalan yang ia miliki kelak menjadi jalan bagi semakin banyak orang untuk mengenal Al-Qur’an. Dari satu penghafal Qur’an, insyaa Allah lahir banyak pembaca Al-Qur’an.
Baca Juga: Mengapa Belajar Membaca Al-Qur’an Penting untuk Setiap Muslim?
Masih Banyak Generasi yang Membutuhkan Cahaya Al-Qur’an
Di tengah masyarakat, masih banyak anak-anak dan orang dewasa yang membutuhkan kesempatan untuk belajar membaca Al-Qur’an. Sebagian belum memiliki kemampuan membaca dengan baik. Sebagian belum menemukan lingkungan belajar yang mendukung. Sebagian lainnya memiliki keinginan untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an, tetapi terkendala keadaan ekonomi.
Di sinilah kita dapat mengambil bagian.
Jika kita belum mampu menjadi guru Qur’an, kita bisa membantu orang yang sedang dipersiapkan untuk menjadi guru. Jika kita belum mampu mendirikan lembaga pendidikan Qur’an, kita bisa membantu seorang santri agar tetap mendapatkan pendidikan. Jika kita belum mampu mengajarkan Al-Qur’an kepada banyak orang, kita dapat membantu melahirkan orang-orang yang kelak akan mengajarkannya.
Menjadi Orang Tua Asuh Penghafal Qur’an
Salah satu bentuk nyata kepedulian tersebut adalah melalui Program Orang Tua Asuh Penghafal Qur’an. Menjadi orang tua asuh berarti ikut membersamai perjalanan seorang santri dalam belajar dan menghafalkan Al-Qur’an.
Dukungan yang diberikan membantu santri memenuhi kebutuhan pendidikannya sehingga mereka dapat lebih fokus menuntut ilmu dan menjaga hafalan. Mungkin yang kita bantu hari ini hanya satu santri. Tetapi kita tidak pernah tahu berapa banyak orang yang kelak akan mendapatkan manfaat dari ilmu dan hafalannya.
Bisa jadi, santri yang kita dukung hari ini kelak menjadi guru Qur’an yang mengajarkan kepada puluhan anak. Bisa jadi ia menjadi pembimbing yang membantu orang-orang dewasa kembali belajar membaca Al-Qur’an. Bisa jadi ia menjadi pendidik yang menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an kepada generasi berikutnya.
Kita membantu satu penghafal Qur’an, tetapi Allah yang menentukan sejauh mana kebaikan itu akan tumbuh.
Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita betapa mulianya orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.
Maka, mendukung lahirnya penghafal Qur’an adalah salah satu ikhtiar untuk menghadirkan lebih banyak orang yang kelak dapat membawa Al-Qur’an kepada masyarakat.
Hari ini mereka sedang menghafal, esok mereka bisa mengajar. Hari ini kita membersamai perjuangannya, esok, insyaa Allah mereka dapat membersamai perjuangan orang lain untuk mengenal Al-Qur’an. Kebaikan itu terus bergerak.
Dari seorang santri, menjadi seorang penghafal Qur’an, menjadi seorang pengajar. Kemudian menjadi cahaya bagi banyak orang.
Sahabat Peduli, masih banyak santri yang memiliki cita-cita menjadi penghafal Qur’an dan membutuhkan orang-orang baik untuk membersamai perjalanan mereka. Mari hadir sebagai Orang Tua Asuh Penghafal Qur’an.
Bukan hanya untuk membantu seorang santri hari ini, tetapi untuk ikut menyiapkan generasi yang kelak membawa cahaya Al-Qur’an ke berbagai penjuru negeri. Sebab, mungkin kita tidak akan pernah tahu siapa saja yang kelak belajar Al-Qur’an dari santri yang kita bantu.
Namun, setiap ayat yang ia ajarkan, setiap hati yang kembali dekat dengan Al-Qur’an, dan setiap generasi yang tumbuh bersama Al-Qur’an, semoga menjadi bagian dari kebaikan yang terus mengalir.
Mari lahirkan lebih banyak penghafal Qur’an. Mari membersamai hafalan mereka hari ini.
Dan mari menjadi bagian dari kebaikan yang terus mengalir melalui Al-Qur’an.