
Al-Qur’an Mengantarkan Zakia pada Orang-Orang Baik, Kisah Penghafal Qur’an Asal Riau
Perjalanan Zakia, santri penghafal Qur’an dari Riau, yang menemukan harapan melalui kepedulian para orang tua asuh.
“Kami tidak mengenal mereka, tapi Masyaa Allah, melalui sedekahnya, betapa mereka peduli terhadap kami para penghafal Qur’an.”
Kalimat itu disampaikan dengan penuh rasa haru oleh Zakia Sasa Bella. Di usianya yang baru 20 tahun, Zakia telah merasakan bagaimana Al-Qur’an bukan hanya mengubah hidupnya, tetapi juga mempertemukannya dengan orang-orang baik yang bahkan belum pernah ia temui.
Zakia merupakan salah satu santri yang mendapatkan manfaat dari dukungan Program Orang Tua Asuh Penghafal Qur’an. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikannya hingga ia mampu menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an.
Datang dari Riau Membawa Mimpi Menjadi Penghafal Qur’an
Zakia datang jauh dari Riau dengan satu harapan besar: menjadi seorang penghafal Qur’an.
Namun, perjalanan itu tidak selalu mudah.
Ayah Zakia bekerja sebagai tukang becak. Seiring bertambahnya usia, kondisi sang ayah semakin menurun dan sering jatuh sakit. Keadaan tersebut beberapa kali membuat Zakia merasa ingin menyerah dan pulang ke rumah.
Tak hanya itu, keluarganya juga sempat mendapat cibiran dari sebagian orang karena dianggap menyulitkan diri sendiri dengan menyekolahkan anak jauh di pondok pesantren dengan biaya yang tidak sedikit.
Di tengah keterbatasan tersebut, Zakia tetap berusaha bertahan. Ia ingin terus belajar, menjadi penghafal Qur’an, dan menjaga ayat-ayat Allah yang telah menjadi cita-citanya.
Hingga akhirnya, pertolongan Allah SWT datang melalui orang-orang baik yang memilih untuk peduli.
Ketika Orang Asing Menjadi Orang Tua Kedua
Melalui Program Orang Tua Asuh Penghafal Qur’an, kebutuhan pendidikan dan kehidupan santri seperti Zakia dapat terus didukung. Kepedulian dari para donatur membuat para santri memiliki kesempatan untuk tetap belajar dan fokus menghafalkan Al-Qur’an.
Menariknya, Zakia bahkan tidak mengenal siapa saja orang yang telah membantunya. Namun, kebaikan mereka terasa begitu dekat.
“Masyaa Allah… Saya tidak tahu mereka. Tapi kepeduliannya terhadap penghafal Qur’an, memfasilitasi kami, dan terus memberikan manfaat untuk kami, menjadi pemacu agar kami tetap istiqomah,” ungkap Zakia.
Bagi Zakia, para donatur bukan sekadar orang yang memberikan bantuan. Mereka telah menjadi orang tua kedua yang membersamai langkahnya dalam menuntut ilmu dan menghafalkan Al-Qur’an.
“Saya pribadi terus membayangkan seperti apa wajah orang-orang baik ini. Saya hanya bisa membalasnya dengan doa di setiap sholat saya, agar mereka diselimuti keberkahan Allah SWT,” lanjutnya.
Sahabat, begitulah kebaikan bekerja.
Seseorang mungkin tidak pernah bertemu dengan santri yang ia bantu. Tidak mengetahui kesehariannya. Bahkan tidak tahu seperti apa wajahnya. Tetapi, kebaikan itu dapat tumbuh menjadi sebuah perjuangan yang panjang.
Baca Juga: Menjadi Orang Tua Asuh Penghafal Qur’an, Apa Saja Perannya?
30 Juz Al-Qur’an Menjadi Hadiah untuk Orang-Orang Baik
Alhamdulillah, perjuangan Zakia akhirnya membuahkan hasil. Ia telah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Pencapaian tersebut tentu menjadi hadiah terindah untuk kedua orang tuanya. Namun, bagi Zakia, ada orang-orang lain yang juga ingin ia bahagiakan: para donatur yang telah ia anggap sebagai orang tua keduanya.
Setiap ayat yang berhasil ia hafalkan menjadi bagian dari perjalanan yang tidak ia tempuh sendirian.
Ada doa orang tua
Ada perjuangan dirinya
Dan ada kepedulian orang-orang baik yang memilih untuk hadir di tengah keterbatasannya
Kini, Zakia berharap hafalannya dapat menjadi bekal untuk terus menebarkan manfaat dan kebaikan kepada orang lain.
Lahirkan Lebih Banyak Penghafal Qur’an melalui Program Orang Tua Asuh
Kisah Zakia adalah satu dari banyak perjalanan santri penghafal Qur’an yang membutuhkan dukungan untuk terus melangkah.
Di luar sana, masih banyak anak-anak yang memiliki cita-cita menjadi penghafal Qur’an, tetapi harus berhadapan dengan keterbatasan ekonomi dan kondisi keluarga.
Karena itu, menjadi Orang Tua Asuh Penghafal Qur’an bukan hanya tentang membantu seorang santri hari ini.
Lebih jauh, kita sedang ikut melahirkan generasi penghafal Qur’an yang kelak dapat mengajarkan Al-Qur’an, membimbing masyarakat, dan menghadirkan kebaikan di berbagai tempat.
Satu santri yang kita dukung hari ini, insyaa Allah dapat menjadi seorang penghafal Qur’an yang kelak mengajarkan Al-Qur’an kepada banyak orang. Dari satu kebaikan, lahirlah kebaikan-kebaikan berikutnya.
Sahabat Peduli, mari menjadi bagian dari perjalanan mereka. Melalui Program Orang Tua Asuh Penghafal Qur’an, kita dapat membersamai kebutuhan pendidikan dan kehidupan santri, agar mereka dapat terus belajar, menghafal, dan tumbuh menjadi generasi penjaga Al-Qur’an.
Mungkin kita tidak mengenal mereka, mungkin kita tidak pernah melihat wajah mereka. Namun, seperti Zakia, bisa jadi nama kita akan selalu hadir dalam doa-doa mereka.
Mari lahirkan lebih banyak penghafal Qur’an. Membersamai hafalannya hari ini, menjemput pahala jariyah yang terus mengalir di kemudian hari.