
Shalat Istisqa: Pengertian, Hukum, dan Tata Caranya
Sahabat Peduli, hujan merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah SWT yang sangat berarti bagi kehidupan. Dari air hujan, tanaman tumbuh, sumber air terisi, dan berbagai kebutuhan manusia dapat terpenuhi. Namun, ketika hujan tak kunjung turun dan kekeringan mulai berdampak pada kehidupan masyarakat, Islam mengajarkan umatnya untuk kembali memohon pertolongan kepada Allah SWT melalui shalat istisqa.
Lantas, apa itu shalat istisqa dan bagaimana tata cara pelaksanaannya?
Apa Itu Shalat Istisqa?
Sesuai dengan namanya, al-istisqa’ ialah meminta curahan air penghidupan (thalab al-saqaya). Para ulama Fiqh mendefinisikan salat Istisqa sebagai salat Sunnah muakkadah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan.
Istisqa secara bahasa berarti meminta hujan atau meminta air. Pelaksanaannya bukan sekadar ritual untuk memohon turunnya hujan, tetapi juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak istighfar, berdoa, merendahkan diri, serta menyadari bahwa manusia senantiasa membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.'” (QS. Nuh: 10–11)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa istighfar merupakan salah satu amalan yang dianjurkan ketika memohon turunnya rahmat Allah SWT.
Shalat istisqa telah dipraktikkan di zaman Rasulullah Saw. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. disebutkan:
خرج النبي صلى الله عليه وسلم يوماً يستسقي فصلى بنا ركعتين بلا أذان ولا إقامة ثم خطبنا ودعا الله عز وجل وحول وجهه نحو القبلة رافعاً يديه ثم قلب ردائه فجعل الأيمن الأيسر والأيسر الأيمن
“Nabi Muhammad Saw keluar rumah pada suatu hari untuk memohon diturunkan hujan, lalu beliau salat dua rekaat bersama kita tanpa azdan dan iqamat, kemudian beliau berdiri untuk khutbah dan memanjatkan doa kepada Allah Swt dan seketika itu beliau mengalihkan wajahnya (dari semula menghadap ke arah hadirin) menghadap ke kiblat serta mengangkat kedua tangannya, serta membalikkan selendang sorbannya, dari pundak kanan ke pundak kiri, begitupun ujung sorbannya.” (HR. Imam Ahmad)
Tata Cara dan Waktu Pelaksanaan Shalat Istisqa
Adapun waktu pelaksanaan shalat istisqa adalah di siang hari, sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari istri beliau, Aisyah Radhiallahu Anha:
خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بدا حاجب الشمس
Dalam hadits ini Rasulullah Saw mengerjakan shalat istisqa’ setelah matahari muncul di atas permukaan bumi, seperti waktu dimulainya salat Idul Fitri atau idul Adha. Para ulama berpendapat salat istisqa’ dapat dikerjakan hingga sore hari, asalkan tidak pada waktu diharamkan mengerjakan salat, yaitu pas matahari di atas kepala dan pas terbenam matahari.
Sedangkan tata cara shalat istisqa adalah:
- Imam dan makmum berkumpul di tanah lapang untuk mengerjakan salat secara berjamaah.
- Imam dan makmum tanpa didahului azdan dan iqamat berniat membaca niat salat istisqa’
أصلي سنة الاستسقاء ركعتين مستقبل القبلة اماما/ماموما لله تعالى
- Sesudah takbiratul ihram, imam dan makmum melakukan takbir 7 x pada rekaat pertama, dan 5 x takbir pada rekaat kedua.
- Pada tiap-tiap rakaatnya imam membaca surat al-fatihah dan satu surat pendek secara jelas yang dapat didengarkan oleh para makmum. Dilanjutkan dengan rujuk, dua sujud dan duduk di antara dua sujud.
- Pada rekaat kedua setelah sujud, imam dan makmum melakukan duduk tahiyyat akhir dan membaca bacaan tahiyyat, tasyahhud, dan salawat seperti yang dibaca dalam salat wajib. Diakhiri dengan bacaan salam dengan menolehkan wajah dan kepala ke kanan dan ke kiri.
- Imam menyampaikan khutbah dan didengarkan oleh jamaah yang hadir. Khutbah salat istisqa’ terdiri dari dua khutbah yang disampaikan khatib dengan cara berdiri dan sekali duduk di antara kedua khutbah. Rukun khutbah dan tatacaranya dalam salat istisqa’ sama dengan yang dilakukan khatib sesudah salat Id. Diantaranya membaca takbir 9 x pada khutbah pertama dan takbir 7 x pada khutbah kedua.
Dalam materi khutbah dianjurkan khatib mengajak umat Islam untuk bertaubat, meminta ampun atas segala dosa, serta memperbanyak istighfar dengan harapan Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan umat Islam dan makhluk hidup lainnya pada saat kemarau panjang.
Tiap-tiap mengakhiri khutbah pertama dan khutbah kedua, khatib disunnahkan membaca doa dengan cara dirinya membalikkan badan dan membelakangi jamaaah untuk menghadap kiblat, menukar posisi selendang sorban di pundaknya, seraya mengangkat kedua tangannya.
Adapun doa yang dipanjatkan pada penghujung khutbah salat istisqa’ yang pernah dibaca Rasulullah Saw adalah sebagai berikut:
1- ((اللهم اسقنا، اللهم اسقنا، اللهم اسقنا))، وفي لفظ: ((اللهم أغثنا، اللهم أغثنا، اللهم أغثنا))
2 – ((اللهم اسقنا غيثًا مغيثًا، مريعًا، نافعًا غير ضار، عاجلاً غير آجل))
3 – ((الحمد لله رب العالمين، الرحمن الرحيم، ملك يوم الدين، لا إله إلا الله يفعل ما يريد، اللهم أنت الله لا إله إلا أنت الغني ونحن الفقراء، أنزل علينا الغيث واجعل ما أنزلت لنا قوة وبلاغًا إلى حين))
4 – ((اللهم اسق عبادك، وبهائمك، وانشر رحمتك، وأحيي بلدك الميت))
5 – ((اللهم اسقنا غيثًا مريئًا مريعًا طبقًا عاجلاً غير رائث ، نافعًا غير ضار))
Demikian penjelasan tentang shalat istisqa’ secara singkat dan padat. Mudah-mudahan negeri kita tercinta ini selamat dari dampak perubahan iklim yang ekstrim. Amiin
Baca Juga: Program Air Bersih Palestina Assyifa Peduli
Adab Saat Melaksanakan Shalat Istisqa
Selain melaksanakan shalat, terdapat beberapa amalan yang dianjurkan ketika memohon hujan, di antaranya:
- Memperbanyak istighfar dan taubat.
- Memperbanyak sedekah dan amal kebajikan.
- Memohon ampun kepada Allah SWT dengan penuh kerendahan hati.
- Menghindari kemaksiatan dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
- Memperbanyak doa dengan penuh keyakinan.
- Menghadirkan rasa membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Shalat istisqa menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan. Ketika ikhtiar manusia tidak mampu menghadirkan hujan, maka kepada Allah SWT-lah kita memohon pertolongan.
Jangan Hanya Meminta Hujan, Mari Menjaga Amanah Air
Turunnya hujan merupakan nikmat yang perlu disyukuri dan dijaga. Karena itu, selain berdoa memohon hujan, kita juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan menggunakan air dengan bijak.
Menanam pohon, menjaga sumber air, tidak membuang sampah sembarangan, menghemat penggunaan air, serta membantu masyarakat yang terdampak kekeringan merupakan bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan bersama.
Sahabat Peduli, semoga setiap doa yang dipanjatkan menjadi jalan turunnya rahmat Allah SWT. Semoga hujan yang turun kelak membawa keberkahan, menghidupkan tanah yang kering, memenuhi kebutuhan masyarakat, dan menjadi rahmat bagi seluruh makhluk.
Mari perbanyak istighfar, kuatkan ikhtiar, dan jangan berhenti mengetuk pintu langit dengan doa. Kita juga dapat berbagi kebaikan dengan sedekah air bersih untuk saudara kita yang membutuhkan dengan [klik di sini].
Semoga Allah SWT menurunkan hujan yang bermanfaat, penuh keberkahan, dan membawa kebaikan bagi kita semua. Aamiin.