• 0853-2059-5056
  • office@assyifapeduli.org
  • Subang, Jawa Barat, Indonesia
Edukasi ZIS
Tak Semua Orang Bisa Makan Daging Setiap Tahun: Inilah Qurban di Madagaskar

Tak Semua Orang Bisa Makan Daging Setiap Tahun: Inilah Qurban di Madagaskar

Qurban di Madagaskar hadir bagi masyarakat dan muslim khususnya yang tidak bisa merasakan daging setiap tahunnya. Seperti kita tahu, umat Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha dengan menyembelih hewan qurban. Dagingnya kemudian dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan terutama fakir miskin. Namun, ada sebuah negeri di ujung selatan Afrika yang menyimpan praktik qurban yang sangat berbeda, sekaligus menyentuh: Madagaskar.

Di negara yang dikenal dengan lemur dan hutan baobab ini, makan daging bahkan setahun sekali adalah sebuah kemewahan yang tak terjangkau oleh mayoritas penduduknya.

“Segenggam Nasi” di Negeri Kaya Rempah

Madagaskar adalah salah satu negara termiskin di dunia. Menurut Bank Dunia, lebih dari 75% penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem (kurang dari $1,90 per hari). Namun, kemiskinan di Madagaskar tidak selalu berarti kelaparan akut setidaknya untuk karbohidrat. Rakyat Malgache (sebutan untuk penduduk Madagaskar) dikenal kreatif dengan “vary amin’anana” (nasi dengan sayuran liar) atau “kitoza” (daging kering yang diiris tipis untuk bertahan berminggu-minggu).

Masalah utamanya adalah protein hewani. Harga daging sapi per kilogram bisa mencapai 25.000 Ariary (sekitar Rp 80.000), sementara upah harian buruh tani rata-rata hanya 5.000 Ariary (Rp 15.000). Artinya, untuk membeli satu kilogram daging, seorang buruh harus bekerja lima hari penuh tanpa makan.

Akibatnya, banyak keluarga Malgache hanya bisa makan daging satu hingga dua kali dalam setahun. Momen itu adalah: Idul Adha (yang secara lokal disebut Fetin’ny Qurban atau Aid el Kebir), dan terkadang di pesta pernikahan.

Di tanah air yang 90% penduduknya hidup dalam kemiskinan agraria, tradisi qurban bukan sekadar ritual keagamaan. Ia menjelma menjadi sistem distribusi pangan paling efektif yang pernah ada.

Di ibu kota Antananarivo, masjid-masjid seperti Masjid Al-Falah atau Masjid Kiblat mulai menerima pendaftaran qurban sebulan sebelum Idul Adha. Namun, berbeda dengan Indonesia atau Timur Tengah yang ramai dengan sapi gemuk dan kambing perah, hewan kurban di Madagaskar memiliki ciri khas: Zebu

Zebu adalah sapi berpunuk yang kurus, bertanduk panjang melengkung, dan memiliki bonggol lemak di punggung. Bagi orang Malgache, zebu adalah lambang kekayaan dan status sosial. Memiliki satu zebu utuh untuk diqurbankan adalah prestasi besar yang hanya mampu dilakukan oleh para pedagang kaya, pemilik tanah, atau diaspora yang pulang kampung.

Seorang panitia qurban di Madagaskar, tepatnya wilayah Morondava, kota di pantai barat, menceritakan:

“Tahun lalu, satu ekor zebu seharga 600.000 Ariary (Rp 1,9 juta). Itu setara dengan gaji tiga bulan seorang guru. Kami hanya bisa menyembelih tiga ekor untuk 200 kepala keluarga. Setiap keluarga hanya mendapat satu bungkus kecil sekitar 200 gram daging. Tapi lihatlah mata mereka… itu seperti melihat emas.”

Yang membuat praktik qurban di Madagaskar begitu istimewa adalah tidak ada yang terbuang. Filosofi Malgache yang terkenal, “Tsy misy very maina” (Tidak ada yang hilang sia-sia), benar-benar diterapkan.

  • Daging: Dipotong kecil-kecil, direbus dengan sakay (sambal cabai hijau lokal) dan voanio (santan kelapa) menjadi “Romazava” hidangan nasional yang biasanya hanya ada saat Idul Adha.
  • Jeroan (hati, usus, babat): Digoreng kering dengan garam, disimpan dalam toples sebagai camilan mewah untuk berminggu-minggu.
  • Kaki dan kepala zebu: Dibakar, lalu direbus selama 12 jam menjadi kaldu “Moso” yang kaya kolagen, diminum bersama nasi sisa semalam. Ini disebut “makanan orang miskin yang kaya rasa.”
  • Kulit: Dijemur, digoreng menjadi kerupuk kulit yang disebut “Kitoza hoditra”  makanan ringan yang dinanti-nanti anak-anak.
  • Tanduk dan tulang: Dijual ke pengrajin untuk dibuat sisir, kancing, atau gagang pisau. Hasilnya dibelikan garam dan minyak untuk persiapan Ramadhan tahun depan.

Di sebuah desa nelayan di Toliara, seorang ibu rumah tangga bernama Fara (35 tahun) menangis saat menerima jatah qurban di Madagaskar tahun lalu. Bukan karena sedih, tapi haru. “Anak-anak saya lupa rasanya daging sapi,” katanya sambil memeluk bungkusan daun pisang. “Setahun yang lalu kami hanya makan ikan asin dan singkong. Hari ini, kami akan makan romazava sepuasnya.”

Baca Juga: Fakta Mengejutkan tentang Krisis Pangan di Madagaskar

Ironi dan Harapan

Namun, ada ironi pahit di balik momen sakral ini. Karena hanya bisa makan daging setahun sekali, banyak warga Malgache menderita kekurangan protein kronis. Akibatnya, angka stunting (tubuh kerdil akibat malnutrisi) di Madagaskar mencapai 42% tertinggi keempat di dunia. Anak-anak di pedalaman bahkan tidak mengenal telur atau susu hingga usia sekolah.

Lalu, mampukah qurban setahun sekali mengatasi masalah ini? Jelas tidak. Tapi bagi mereka, qurban bukan Solusi ia adalah simbol. Simbol bahwa meskipun perut lapar, iman tetap memberi. Simbol bahwa di tengah ketiadaan, Allah masih mengingat mereka.

Seperti kata seorang kiai di kampung Antsirabe: “Qurban di sini tidak gemuk seperti di Saudi. Zebu kami kurus, bahkan tulangnya lebih banyak dari dagingnya. Tapi pahalanya? Subhanallah, mungkin lebih besar. Karena di setiap serat daging yang kami bagi, terselip doa orang yang setahun hanya makan nasi dan garam.”

Pelajaran untuk Kita

Saat kita di Indonesia mungkin risih dengan daging qurban yang “cuma 2 kg per orang” atau mengeluh karena mendapat bagian daging yang banyak lemak, ingatlah Madagaskar. Ingatlah Fara dan anak-anaknya yang menganggap sepotong daging sebagai hadiah surgawi.

Praktik qurban di Madagaskar mengajarkan kita satu hal: Kemuliaan sebuah ibadah tidak diukur dari seberapa banyak daging yang dibagikan, tapi seberapa dalam ibadah itu mengubah hidup mereka yang menerima.

Di negeri yang tak semua orang bisa makan daging setiap tahun, kurban adalah bukti bahwa rahmat Tuhan tetap mengalir—bahkan melalui zebu kurus di ujung dunia.

Qurban di Madagaskar Melalui Assyifa Peduli

Kisah qurban di Madagaskar bukan sekadar cerita kemiskinan. Ia adalah narasi tentang bagaimana sebuah ritual agama beradaptasi dengan kondisi geografis, ekonomi, dan budaya setempat. Ia menunjukkan bahwa esensi kurban—pengorbanan, berbagi, dan kepedulian—tetap menyala, sekalipun di tengah keterbatasan ekstrem.

Program Qurban di Madagaskar Assyifa Peduli menjadi salah satu ikhtiyar nyata dalam membantu mereka yang tengah menghadapi krisis pangan. Di tengah keterbatasan akses terhadap makanan bergizi, distribusi daging qurban menghadirkan harapan dan menjadi sumber nutrisi yang sangat berarti. Lebih dari sekadar ibadah, qurban di Madagaskar ini menjelma sebagai bentuk kepedulian global yang menghubungkan kebaikan dari para pekurban dengan saudara-saudara yang membutuhkan, sekaligus menjadi langkah kecil namun berdampak dalam meringankan beban kehidupan mereka.

Yuk qurban di Madagaskar melalui Assyifa Peduli!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine + 5 =