• 0853-2059-5056
  • office@assyifapeduli.org
  • Subang, Jawa Barat, Indonesia
Edukasi ZIS
Bagaimana Allah Mengobati Hati yang Terluka? Kisah tentang Kecewa, Rezeki, dan Pertolongan-Nya

Bagaimana Allah Mengobati Hati yang Terluka? Kisah tentang Kecewa, Rezeki, dan Pertolongan-Nya

Penulis: Eres | Editor: Firdha Feb

Bagaimana Allah mengobati hati yang terluka? Sahabat Peduli, pernahkah merasa diperlakukan tidak adil, kecewa, bahkan merasa terzalimi oleh seseorang?

Ketika hal itu terjadi, hati tentu tidak selalu mudah untuk menerima. Ada rasa kecewa, marah, sedih, bahkan muncul pertanyaan dalam hati, “Mengapa Allah membiarkan ini terjadi?”

Namun, terkadang kita baru memahami jawabannya setelah waktu berlalu. Sebab, bisa jadi apa yang kita anggap sebagai kehilangan atau kekecewaan sebenarnya sedang menjadi bagian dari cara Allah menuntun kita menuju sesuatu yang lebih baik.

Berikut sebuah kisah inspiratif dari Kak Eres, relawan LAZ Assyifa Peduli yang memaknai bagaimana Allah SWT mengobati hati yang terluka.

Berawal dari 50 Ekor Ayam

Kisah ini bermula dari sebuah rencana sederhana.

Suatu hari, saya mendengar ada ayam petelur jenis Elba yang hendak dijual. Kebetulan saat itu media sosial sedang ramai dengan konten tentang ketahanan pangan dan beternak ayam. Saya pun mencoba menawarkan ayam tersebut kepada orang tua.

Ternyata, orang tua saya tertarik.

Dari yang awalnya hanya membeli beberapa ekor, muncul keinginan untuk mengembangkan usaha kecil-kecilan dengan menjual telur ayam. Kami kemudian mendapat informasi mengenai seorang peternak yang memiliki cukup banyak ayam petelur. Sebut saja beliau Peternak A.

Kami pun datang langsung ke peternakannya dan berdiskusi mengenai ayam yang akan dibeli. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya kami memutuskan membeli sekitar 50 ekor ayam petelur.

Saat itu, ayam yang kami beli disebut telah berusia sekitar 15 minggu. Kami pun berharap ayam-ayam tersebut segera memasuki masa produktif dan mulai menghasilkan telur.

Menurut penjelasan yang kami terima, ayam diperkirakan mulai bertelur sebelum atau setelah Lebaran.

Kami pun menunggu.

Lebaran berlalu.

Satu bulan berlalu.

Dua bulan berlalu.

Namun, telur yang kami harapkan belum juga datang seperti yang dibayangkan.

Beberapa kali Peternak A menghubungi kami untuk menanyakan perkembangan ayam. Kami menyampaikan kondisi sebenarnya. Arahan mengenai pakan dan perawatan pun sebisa mungkin kami ikuti.

Sampai akhirnya kami hanya bisa berkata,

“Ya sudah, mau bertelur kapan pun, itu rezekinya dari Allah.”

Setelah itu, komunikasi pun semakin jarang.

Ketika Kecewa Mulai Datang

Di titik tersebut, jujur saja, muncul rasa kecewa. Kami sempat merasa bahwa apa yang kami dapatkan tidak sesuai dengan harapan. Kami merasa dirugikan karena ayam-ayam tersebut belum juga menunjukkan produktivitas seperti yang dibayangkan.

Bahkan, sempat muncul perasaan bahwa kami telah diperlakukan tidak adil. Namun, kami berusaha untuk tidak terus-menerus memelihara rasa kecewa tersebut. Bagaimanapun, kejadian sudah terjadi. Yang bisa kami lakukan adalah berusaha merawat ayam-ayam tersebut dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Perlahan, beberapa ayam mulai bertelur. Memang jumlahnya belum banyak. Bahkan beberapa ekor ayam juga mati. Tetapi setidaknya, ada sedikit rasa lega. Kami kembali berkata dalam hati,

“Mungkin memang ini rezeki kami.”

Ternyata, kisahnya belum selesai.

Allah Mengobati Hati yang Terluka dengan Cara Tidak Disangka

Tidak lama kemudian, seorang tetangga yang sudah kami kenal ternyata hendak pindah ke luar Pulau Jawa. Beliau memiliki sekitar 80 ekor ayam petelur yang sudah memasuki usia produktif. Kemudian, beliau datang menemui kami dan menawarkan ayam-ayam tersebut kepada kami.

Bukan hanya ayam. Ada kandang, tempat makan, tempat minum, sisa pakan, serta berbagai perlengkapan lainnya. Yang membuat kami semakin terkejut, seluruhnya ditawarkan dengan harga sekitar Rp5 jutaan yang artinya di bawah harga pasaran.

Jumlah ayamnya lebih banyak, usianya sudah produktif, perlengkapannya pun lengkap. Bahkan masih ada pakan dan berbagai fasilitas yang ikut diberikan.

Saat itu, yang terucap hanya,

“Masya Allah…”

Di situlah kami mulai memahami sesuatu.

Ternyata, Allah punya cara sendiri dalam mengobati hati yang terluka dan kecewa.

Baca Juga: Infak Jumat Santri Berbasis Teknologi

Tidak Selalu Dikembalikan, tetapi Bisa Diganti dengan yang Lebih Baik

Kadang-kadang kita berharap Allah mengembalikan sesuatu yang menurut kita telah hilang. Kita berharap orang yang telah menyakiti kita meminta maaf. Kita berharap kerugian kita dikembalikan. Kita berharap keadaan kembali seperti semula.

Namun, pertolongan Allah tidak selalu datang dalam bentuk mengembalikan apa yang telah hilang. Terkadang Allah mengobati hati yang terluka dan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Apa yang awalnya menjadi sumber kekecewaan justru menjadi pintu menuju rezeki yang baru.

Dari tambahan ayam tersebut, kami akhirnya mulai menjalankan usaha kecil-kecilan dengan lebih serius. Telur-telur yang dihasilkan kemudian dijual kepada grosir kecil, perorangan, hingga akhirnya mulai memasok kebutuhan unit produksi roti.

Kalau mengingat kembali kejadian di awal, rasanya seperti melihat sebuah cerita yang sudah disusun dengan sangat rapi.

Kami sempat kecewa.

Kami sempat merasa diperlakukan tidak adil.

Kami sempat bertanya-tanya,

“Mengapa harus mengalami kejadian seperti ini?”

Tetapi ternyata, di balik kejadian tersebut ada rezeki lain yang sedang menunggu.

Allah Tahu Mengobati Hati yang Terluka

Dari kisah sederhana ini, ada satu hal yang terus menjadi pengingat:

Allah tahu ketika hati kita kecewa.

Allah tahu ketika kita merasa diperlakukan tidak adil.

Allah tahu ketika kita menahan marah agar tidak membalas dengan keburukan.

Dan Allah tahu bagaimana cara terbaik untuk mengobati hati yanng terluka kita.

Bukan berarti setiap ketidakadilan akan langsung mendapatkan balasan yang bisa kita lihat. Bukan pula berarti setiap kehilangan akan segera diganti dalam bentuk materi. Tetapi kita dapat belajar untuk percaya bahwa Allah tidak pernah luput dari keadaan hamba-Nya. Ia tahu bagaimana mengobati hati yang terluka.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah…”
(QS. An-Nisa: 40)

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa tidak ada satu pun kebaikan maupun ketidakadilan yang luput dari pengetahuan Allah. Karena itu, ketika hati sedang terluka, mungkin kita tidak perlu terburu-buru mencari jawaban. Bisa jadi jawabannya baru akan terlihat setelah beberapa waktu. Saat itu, kita tahu bagaimana cara Allah mengobati hati yang terluka.

Ketika Pertolongan Allah Datang di Waktu yang Tepat

Ada kalanya doa kita tidak dijawab sesuai dengan bentuk yang kita bayangkan. Kita meminta satu hal, tetapi Allah memberikan hal lain. Kita ingin mempertahankan sesuatu, tetapi Allah justru membuka jalan baru. Kita merasa kehilangan, tetapi ternyata Allah sedang mengarahkan kita kepada sesuatu yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Maka, ketika sedang kecewa, mari belajar untuk tetap bersabar dan menjaga hati, yakin bahwa Allah akan mengobati hati yang terluka.

Bukan karena kita harus membenarkan sebuah ketidakadilan, tetapi karena kita percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik tempat untuk menyerahkan perkara yang tidak mampu kita selesaikan sendiri. Allah tahu bagaimana cara mengobati hati yang terluka.

Jangan terlalu lama larut dalam kecewa. Jangan pula terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak adil hanya karena kita belum memahami jalan ceritanya. Sebab, bisa jadi sesuatu yang hari ini membuat kita menangis justru menjadi pintu bagi datangnya rezeki yang lebih besar di kemudian hari.

Allah Maha Mendengar.

Allah Maha Mengetahui.

Dan Allah Maha Menyayangi hamba-Nya.

Semoga kisah sederhana ini menjadi pengingat bagi kita semua: ketika hati kecewa karena perlakuan manusia, jangan sampai kita kehilangan prasangka baik kepada Allah. Yakin bahwa Allah akan mengobati hati yang terluka.

Bisa jadi, sesuatu yang kita anggap sebagai akhir ternyata sedang menjadi awal dari rezeki yang tidak pernah kita sangka.

Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × five =